STUDI FASA TRANSISI KONDUKTOR SUPERIONIK AgI DENGAN HAMBURAN NEUTRON

Supandi Suminta, Evvy Kartini

DOI: http://dx.doi.org/10.17146/jusami.2001.3.1.5253

Abstract


STUDI FASA TRANSISI DALAM KONDUKTOR SUPERIONIK AgI DENGAN HAMBURAN NEUTRON. Analisis struktur kristal konduktor superionik AgI telah dipelajari sebagai fungsi suhu dengan difraksi neutron serbuk. Untuk mengonfirmasi suhu transisi dan mendapatkan informasi tentang fasa transisi AgI, pengukuran kapasitas panas pada suhu transisi AgI telah ditentukan dengan Diffrensial Scanning Calorimetry (DSC). Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa suhu transisi dimulai pada suhu 420K, dicapai puncak pada 428,1K (gauss fitting curve), mendekati akhir pada 433K dan berakhir pada sekitar 438K. Berdasarkan hasil analisis DSC, pengukuran intensitas difraksi neutron diambil pada suhu mendekati awal, puncak, mendekati akhir dan daerah suhu akhir transisi berturut-turut yakni; 420K, 429K, 433K dan 439K. Struktur Agl pada proses pemanasan (heating) pada daerah suhu transisi di atas telah ditentukan. Pada suhu 420K s.d 439K terjadi perubahan fasa β ke fasa α dan garam Agl berada dalam campuran dua fasa major yakni bersistem kristal Heksagonal (grup ruang P 63 m c dan model kedudukan Wycoff :2a) dan BCC (grup ruang I m 3 m dan model kedudukan Wycoff : 48j) serta sedikit FCC (grup ruang F -43 m dan model kedudukan Wycoff :4a). Pada suhu awal transisi 420K, diperoleh fraksi massa fasa β : α : γ adalah 79,51 % : 5,69% : 14,80 %. Pada suhu puncak transisi 428K, didapatkan fraksi massa fasa β : α : γ adalah 68,11% : 20,37% : 11,52%. Pada suhu mendekati akhir transisi fasa 433K, menghasilkan fraksi massa fasa β : α : γ adalah 43,77 % : 53,93% : 2,30%. Pada suhu akhir transisi fasa 439K, diperoleh kandungan fraksi massa fasa β : α : γ adalah 6,21 % : 93,46% : 0,33%. Berdasarkan hasil pengukuran DSC, puncak suhu transisi fasa diperoleh pada 155℃ atau 428K yang berkaitan dengan transisi fasa β ke fasa α. Akan tetapi pada kenyataannya pada suhu 428K, kandungan fraksi massa fasa β dan α masing-masing adalah 68,11% dan 20,37% serta sedikit impuritas fasa γ sebesar 11,53%. Pada Suhu mendekati transisi pada 160℃ atau 433 K, kandungan fraksi massa fasa β dan α masing-masing adalah 43,77% dan 53,93% serta sedikit impuritas fasa γ sebesar 2,30%. Hasil analisis menunjukkan bahwa suhu transisi garam AgI yang diperoleh melalui DSC tidak sama dengan suhu transisi perubahan struktur fasa pada konduktor superionik AgI. Hal ini dibuktikan dengan belum tercapainya perubahan struktur fasa β ke fasa α sebesar 50%, dan hasil DSC dicapai puncak suhu transisi pada suhu 428K ± 1.

Keywords


Strutur kistalin, fasa transisi, hamburan neutron, superionik Agl, DSC

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2018 Jurnal Sains Materi Indonesia

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.


Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency of Indonesia
Phone : +62 21-758 74261, +62 21-756 2860 ext. 4009-4010, Fax.: +62 21-756 0926, e-mail: jusami@batan.go.id



preview previewpreviewpreviewpreviewpreviewpreviewpreviewpreview previewpreview

View My Stats
Creative Commons LicenseCopyright © 2019 Jusami | Indonesian Journal of Materials Science. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License (CC BY-NC-SA 4.0).