Identifikasi Akuifer Dangkal di Pulau Terdepan NKRI dengan Menggunakan Metode Geolistrik 2D: Studi Kasus Pulau Laut, Kab. Natuna

Dino Gunawan Pryambodo, Joko Pihantono, Reiner Arief Troa, Eko Triarso

DOI: http://dx.doi.org/10.17146/eksplorium.2016.37.1.2667

Sari


Kebutuhan akan air bersih untuk menunjang aktivitas masyarakat di bidang perikanan di pulau terluar sangat diperlukan karena di lokasi tersebut kondisinya minim sumber air tawar. Penelitian geofisika dengan metode Geolistrik 2D telah dilakukan untuk mengidentifikasikan keberadaan akuifer di Pulau Laut, Kabupaten Natuna sebagai pulau terluar dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pengukuran di lapangan dengan enam lintasan geolistrik 2D menggunakan konfigurasi Wenner, bentangan kabel 160 meter, untuk mendapatkan kedalaman penetrasi 26,9 meter di bawah permukaan. Data tahanan jenis di Pulau Laut digunakan untuk mengidentifikasi keberadaan akuifer di daerah penelitian. Akuifer berada pada kedalaman yang bervariasi di dekat permukaan dengan kedalaman 2,5 – 13 m di jalur utara, jalur PDAM, dan jalur Air Paying; 12 – 26,9 m di jalur Kadur, jalur Air Bunga, dan jalur Air Paying. Nilai tahanan jenis untuk setiap akuifer bervariasi di setiap jalur. Nilainya berkisar antara 0,651 – 14 Ωm. Litologi penyusun akuifer adalah satuan batupasir di jalur Kadur, Air Bunga, Talaga Tasik dan Air Paying; batulanau di jalur PDAM; dan batugamping di jalur utara.

 

The need for fresh water to support community activities in the field of fisheries on the frontier island is necessary because this location has minimal condition to the source of fresh water. Geophysical research with 2D geoelectrical methods conducted to identify the aquifers in the area of Pulau Laut, Natuna Regency as the frontier island of United Country of Republic Indonesia (NKRI). In field, measurement is using six 2D geoelectric lines with Wenner configuration and 160 m cable stretching to obtain 26.9 m sub-surface depth penetration. Resistivity data in Pulau Laut used to identify the aquifer presence in research area. Aquifers are located on varies depth near the surface with a depth of 2.5 – 13 m in north line, PDAM line, and Air Paying line; 12 – 26.9 m in Kadur line, Air Bunga line, and Air Paying line. Resistivity value for each aquifer varies for each line. They are ranging from 0.651 – 14 Ωm. Lithologies, composing the aquifer, are sandstone unit in Kadur, Air Bunga, Talaga Tasik, and Air Paying lines; silstone in PDAM line; and limestone in the north line.

 


Kata Kunci


akuifer, metode geolistrik 2D, Pulau Laut, Natuna

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


[1] R. Indonesia, Peraturan Pemerintah Nomor 62 tentang Pemanfaatan Pulau-pulau Kecil Terluar. Indonesia, 2010.

[2] Delinom dan M. Robert, “Sumber Daya Air di Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil,” Jakarta, 2007.

[3] A. S. Hakim dan N. Suryono, Peta Geologi Lembar Teluk Butun dan Ranai, Sumatra. Bandung: Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, 1994.

[4] B. Kab.Natuna, “Statistik Daerah Kecamatan Pulau Laut,” Natuna, 2015.

[5] USGS, “Citra Satelit Landsat 7 ETM,” 2013. [Online]. Available: http://landsat.usgs.gov/landsat7.php. [Accessed: 04-Oct-2015].

[6] A. Herlambang, “Kualitas Air Tanah Dangkal di Kabupaten Bekasi,” IPB, 1996.

[7] R. J. Kodoatie, Pengantar Hidrogeologi. Yogyakarta: Andi Offset, 1996.

[8] G. P. Kruseman and N. A. De Ridder, Analysis and Evaluation of Pumping Test Data, 2nd ed. Wageningen: International Institute for Land Reclamation and Improvement, Wageningen, 1994.

[9] A. S. Wijaya, “Aplikasi Metode Geolistrik Resistivitas Konfigurasi Wenner untuk Menentukan Struktur Tanah di Halaman Belakang SCC ITS Surabaya,” J. Fis. Indones., vol. 19, no. 55, pp. 1–5, 2015.

[10] M. Hasanudin dan D. G. Pryambodo, “Studi Intrusi Air Laut di Cirebon dengan Menggunakan Metode Geolistrik,” J. Segara, vol. 5, no. 2, pp. 121–133, 2009.

[11] D. Santoso, Pengantar Teknik Geofisika. Bandung: Departemen Teknik Geofisika ITB, 2002.

[12] GARMIN, “GPSMAP 78 Series Manual,” 2010. [Online]. Available: http://gpscentrs.lv/instrukcijas/GPSMAP_78_OM_EN.pdf. [Accessed: 06-Nov-2015].

[13] GEOCIS, “S Field Resistivity Automatic Multichannel (16 CH),” 2015. [Online]. Available: http://www.geocis.net/file-download/S-FIELD-.pdf. [Accessed: 06-Nov-2015].

[14] W. M. Telford, L. P. Geldart, and R. E. Sheriff, Applied Geophysics, 2nd ed. New York: Cambridge University Press, 1990.

[15] M. H. Loke, Tutorial 2D and 3D Electrical Imaging Surveys. Birmingham: Birmingham University, 2004.

[16] G. J. Palacky, “Resistivity Characteristics of Geologic Targets,” in Electromagnetic Methods in Applied Geophysics Theory, Vol. 1, Okla: Society of Exploration Geophysicists, 1987.

[17] S. Mandel and Z. L. Shiftan, Groundwater Resources : Investigation and Development. London: Academic Press, 1981.


Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.




EKSPLORIUM terindeks pada:

Google Scholar Logo SINTA Logo Logo GARUDA


Hak Cipta EKSPLORIUM, Buletin Pusat Pengembangan Bahan Galian Nuklir (e-ISSN 2503-426x p-ISSN 0854-1418)

Jl. Lebak Bulus Raya No. 9, Ps. Jumat, Jakarta 12440, Indonesia, Telp (021) 7691775, 7695394, 75912956 Fax (021)7691977.